"Dear Dokter@Penyiar.com,
Setelah siaran sekian lama, koq saya merasa karir Broadcasting saya mentok?"

[ Herry S. ]

Penyiar yang mentok itu ada 2 macam : Mentok menurut tempat dia bekerja,
atau Mentok menurut dia sendiri. Para employer sering kesal kalau Penyiarnya
tidak menyadari bahwa kemampuannya sudah Mentok. Berkali-kali Manajemen
memberi dia kesempatan untuk berkembang, namun dia tidak menyadarinya
sehingga dia kaget sewaktu jatah siarannya diberikan kepada penyiar lain.

Koq bisa terjadi seperti ini? Sewaktu pihak Manajemen bersikap kritis terhadap
seorang penyiarnya, bisa terjadi pada dua tingkatan: Persepsi "kurang" di mana
penyiar tersebut tidak diberi jam siaran karena kualitas minimal tidak terpenuhi,
dan Persepsi "mentok" di mana penyiar tersebut ditantang untuk mengembangkan
rentang kemampuannya. Dokter@Penyiar.com sering melihat contohnya: penyiar
tersebut tidak menyadari bahwa ia sedang diberi kesempatan emas untuk
menunjukkan berbagai kelebihannya ketimbang gaya siaran yang biasa dipakai.

You Are Dispensable

Di pelatihan Workshop@Penyiar.com sering kita bahas: setiap hari ada seorang
penyiar baru yang memasuki dunia Broadcasting di Indonesia. Artinya pihak
Manajemen di stasiun radio maupun televisi akan selalu punya calon penyiar baru
untuk menggantikan penyiar lama yang dirasakan sudah mentok kemampuannya.
Kalau tersedia penyiar lain atau penyiar baru yang terbukti bisa siaran lebih bagus
maka wajarlah jika pihak Manajemen memilih yang lebih terampil, terutama jika
para sponsor dan pengiklan yang sudah meminta pembawa acaranya diganti.

Maka yang bahaya adalah jika Penyiar sudah merasa mentok sebelum employer-nya
merasa demikian. Bahayanya ada dua: penyiarnya siaran dengan cara yang sama
(baca: tanpa peningkatan) selama berbulan-bulan, sedangkan pihak Manajemen
pun tidak ada dorongan/tekanan untuk merevisi program-nya maupun mengukur
kepuasan pendengar/pemirsanya. Dokter@Penyiar.com dengan yakin mengatakan
bahwa program radio maupun televisi yang mengalami dua gejala ini (sikap cuek
dari penyiar-nya dan sikap apatis dari Manajemen-nya) sudah pasti akan kehilangan
ratings, sponsors, audience atau ketiga-tiganya.

"Aku cuman pingin muncul di TV".

Penyebab dasar semua itu adalah Penyiar yang memasang target pencapaian yang
terlalu rendah. Skill-level yang ia targetkan untuk dirinya sendiri ternyata rendah
dibandingkan apa yang seharusnya diharapkan dari program atau perusahaan
tersebut. Sayangnya, di zaman sekarang ini terlalu banyak penyiar baru yang
pasang cita-cita rendah: "Yang penting muncul di TV!" Tidak ada pertimbangan
tentang kepuasan audience, apalagi kontinuitas dia sendiri di dunia siaran.

Akibatnya, dalam masa karir yang begitu singkat sang penyiar itu dicap 'mentok'
dan dia langsung diganti dengan penyiar lain. Dokter@Penyiar.com sudah melihat
berbagai penyiar yang karirnya singkat karena mematok cita-cita yang berpandangan
sempit. Setelah itu biasanya sang penyiar tersebut akan merasa kaget dan kecewa.
Kita bisa saja menyalahkan pihak Program Director atau Produser yang kurang
memotivasinya untuk tampil lebih bagus, namun toh ada banyak calon penyiar
penggantinya. Lagipula seorang Broadcaster yang selalu "harus diingatkan" untuk
mengembangkan kemampuannya tidaklah layak untuk tampil di hadapan audience
yang senantiasa mengharapkan (dan berhak mendapatkan) keterampilan terbaik.

Siapa yang Lebih Tersiksa: Penyiar-nya atau Penonton-nya?

Situasi yang lebih kondusif adalah jika seorang penyiar merasa bahwa dirinya mentok,
karena solusinya bisa dicari dari dia sendiri (mau mencoba program baru?) atau bisa
diatur dengan para manajer dan produser lainnya (berani pasang dia di program baru?).
Ini pun tidak selalu mulus jika faktor Billing Iklan (baca: Uang) tidak terpengaruh.
Seorang teman saya pembawa acara Family Quiz (bukan nama sebenernya)
merasa sudah mentok dan bahkan suntuk di program tersebut, namun karena iklan
untuk acara itu tetap deras dan selalu ada stasiun TV yang bersedia menayangkannya
maka ia terus menjalani peran sebagai host program tersebut.

Dalam dunia yang ideal, seorang penyiar seharusnya tahu kualifikasi pembawa suatu
acara. Sebaliknya para produser juga seharusnya menggariskan suatu standard tinggi
bagi siapa pun yang ingin menjadi pembawa sebuah acara. Inti dari Show Business
adalah persaingan tiada-henti untuk merebut hati audience dan kesetiaan pengiklan.
Dokter@Penyiar.com menghimbau: jika ada penyiar sebuah program siaran yang dirinya
merasa sudah mentok potensinya di acara tersebut maka hendaknya dia sendiri yang
mulai mencari kiat atau pendekatan baru yang bisa menghindarkan program itu dari
kemiskinan inovasi dan korupsi kreatifitas.

Pasar itu Lebih Kejam dari Pengiklan

Seorang manajer yang mempunyai Talent yang terlihat mentok harus aktif mengajaknya
untuk mencoba hal-hal baru atau setidaknya menumbuhkan semangat baru untuk
berkreasi demi bagusnya program tersebut. Jika dibiarkan maka sebelum Pengiklan
mundur maka Pasar (baca: rating yang diberikan oleh audience) akan terlebih dahulu
"menghukum" acara tersebut dengan cara meninggalkannya demi program lain.

Jadi cara jitu menghindari "mentok"? Selalu memasang target yang tinggi buat diri kita.
Dengan cara ini, Dokter@Penyiar.com yakin bahwa tanpa disadari kita akan maju terus
dan melampaui rekan-rekan lain yang cita-citanya ternyata lebih mudah dicapai dan
telah terlebih dulu sampai pada titik optimal keterampilannya.

Rubrik Dokter@Penyiar.com diasuh oleh Eko Junor .

[Kirim pertanyaan Anda via e-mail ke dokter@penyiar.com. Jangan lupa tulis nama Anda!]

Pertanyaan lainnya di Dokter@Penyiar.com
Back to Penyiar.com