Apa yang dimaksud dengan "diafragma"? Gimana caranya “bicara pake diafragma”?
[Runi, Bandung]

Dokter Penyiar inget dulu ada Station Manager di kawasan elit Jakarta yang melatih para penyiar baru
dengan cara menyuruh mereka humming sambil menghadap dinding. Pake tangan yang ngambang
10 sentimeter dari punggung para penyiarnya, dia “ngerasa”-in apakah ybs bisa memancarkan getaran
yang bisa terasa di telapak tangannya tersebut. Para penyiar barunya dengan susah-payah mencari
dan mencoba menciptakan efek getar itu, dan heran betapa SM-nya bisa langsung menetapkan,
“Kamu udah pake diafragma… nah, kalo kamu belum terasa getarannya!”. Anehnya, SM tersebut
bukan “penyiar-karir” yang berpengalaman siaran bertahun-tahun mengolah nafasnya untuk bicara!

Dokter Penyiar bisa kasih penjelasan begini nih...

Paru-paru kita khan nggak punya otot, karena hanya berupa membrane yang berbentuk kantong
yang dipakai untuk menyerap oksigen dari udara utk disalurkan ke darah. Tindakan "bernafas" terjadi
saat otot diafragma (yang letaknya di bawah paru-paru) menarik paru-paru mengembang ke bawah.
Semua orang bernafas menggunakan diafragmanya (dan otot dada pun ikut mengembang), tapi konon
cara terbaik utk bernafas saat "bicara siaran" (atau bernyanyi) adalah dengan mengurangi beban dada
dan memfokuskan pernafasan pada otot diafragma alias mengembangkan isi paru-paru ke bawah.
Ini akan membuat perut orang awam terasa penuh (makanya lazim disebut "nafas pake perut")
walaupun sebenarnya udara tidak akan tersedot ke perut.

"Suara" tercipta akibat udara tersebut melewati pita suara (masuk maupun keluar paru-paru) dan
menyebabkan getaran yang menggema (ber-resonansi) di seluruh "upper torso" (badan bagian atas).
"Bicara" adalah hasil dari artikulasi oleh alat bicara kita seperti lidah, bibir, pipi, dan bahkan gigi
ditambah dengan "suara" tersebut. Tanpa "suara" maka hanya akan terdengar bisik-bisik akibat
udara yang melewati alat bicara kita tanpa menyebabkan getaran.

Karena itulah dianjurkan “bernafas menggunakan diafragma” alias memekarkan paru-paru kita ke bawah
saat mengambil nafas. Lha wong pelari marathon aja (yang prestasinya tidak mengandalkan bicara)
harus bernafas secara baik dan teratur, apalagi penyiar. Para penyanyi mengandalkan tehnik bernafas
begini agar pengeluaran udara dari dadanya tidak melelahkan dan bisa konstan kualitas bicaranya.

Getaran yang dicari oleh Station Manager tadi pasti terjadi asalkan sang penyiar tidak berbisik-bisik,
dan yang penting adalah hasil getaran tsb tertangkap oleh mikrofon atau telinga audience/hadirin
bukannya sebuah tangan. Contohnya adalah Sonny Setiawan (voiceover-nya Famili 100) yang
bagaikan Subwoofer kalau Anda bertemu-muka, namun bass-nya hilang kalau ia bicara on tape.

Dokter Penyiar berani menyatakan bahwa yang penting bukanlah gelombang suara yang bergetar dari
tubuh Anda, melainkan pengendalian Anda terhadap getaran suara tersebut plus artikulasi bicara
sedemikian rupa sehingga pendengar/penonton bisa menangkap bicara Anda dengan optimal.

Dengan koordinasi yang baik antara otot diafragma, perangkat bicara, dan fokus pikiran Anda, maka
setiap kali Anda berbicara akan selalu dengan kualitas suara yang optimum, nafas yang terkendali
(walau mungkin tetap terdengar), dan ketahanan+kelancaran bicara yang tangguh.

Ciri khas penyanyi dan penyiar bagus? Nafasnya menjadi bagian terpadu dari ekspresi-dirinya,
sehingga ia bisa lebih memperhatikan "isi & kesannya" ketimbang "teknis & caranya".

[Kirim pertanyaan Anda via e-mail ke dokter@penyiar.com. Jangan lupa tulis nama Anda!]

Pertanyaan lainnya di Dokter@Penyiar.com
Back to Penyiar.com